EPISIOTOMI TERHADAP MASYARAKAT PEDESAAN

Episiotomi yang di sebagian masyarakat pedesaan dikenal dengan istilah "digunting", merupakan tindakan untuk memperlebar jalan lahir, dianjurkan dilakukan untuk wanita yang melahirkan pertama kali (primigravida) atau pada wanita dengan perineum yang kaku. Episiotomi dilakukan untuk mencegah terjadinya ruptura perinei yang sering kali menjadi sebab kesakitan bagi ibu bersalin dan tingginya angka kesakitan ibu nifas. Di samping itu dengan diperlebarnya jalan lahir, maka tekanan intrakranial pada bayi yang dilahirkan sewaktu melewati jalan lahir dapat dikurangi. (Prawirohardjo, 1986)

Akan tetapi di sebagian besar masyarakat pedesaan, episiotomi atau "digunting" ini masih merupakan penghambat untuk pemanfaatan pelayanan tenaga kesehatan (bidan) dalam persalinan. Ketakutan akan dilakukan episiotomi menyebabkan mereka memilih bidan yang tidak melakukan episiotomi dalam menolong persalinan, atau bila mana perlu lebih memilih dukun yang dalam pertolongan persalinan tidak pernah melakukan episiotomi.

Melalui penelitian ini ingin diketahui mengapa terdapat ketakutan akan dilakukan episiotomi pada pertolongan persalinan di masyarakat. Bagaimana pengetahuan dan sikap masyarakat pedesaan terhadap episiotomi.

Tujuan penelitian adalah (a). mengetahui pengetahuan masyarakat mengenai episiotomi, (b). mengetahui sikap masyarakat terhadap episiotomi, dan (c). mengetahui pengetahuan dan sikap bidan desa terhadap episiotomi.

Penelitian menggunakan rancangan cross sectional. Sampel terdiri dari 98 ibu hamil 3 bulan ke atas dlan 10 orang bidan desa. Variabel yang diteliti adalah pengetahuan responden ibu hamil dan bidan desa mengenai episiotomi, meliputi pengertian, indikasi dan manfaat episiotomi, sikap responden ibu hamil dan bidan desa terhadap episiotomi. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara terstruktur dengan ibu hamil menggunakan kuesioner dan wawancara mendalam (indepth interview) dengan bidan desa. Pengolahan data dilakukan dengan bantuan komputer dan dilakukan penyajian hasil secara diskriptif maupun inferensial.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa episiotomi belum banyak dimengerti oleh masyarakat. Sebagian besar masyarakat memiliki pengetahuan yang kurang mengenai episiotomi, tujuan dan indikasinya. Demikian juga dengan sikap ibu hamil terhadap episiotomi. Terdapat ketakutan akan dilakukan episiotomi pada saat persalinan. Tampaknya peran orang tua cukup besar dalam menentukan boleh tidaknya dilakukan episiotomi.

Ketakutan akan episiotomi menyebabkan responden ibu hamil memilih pertolongan persalinan kepada dukun, dan sebagian responden yang merencanakan meminta pertolongan persalinan ke tenaga kesehatan akan memilih ke tenaga kesehatan yang lain yang tidak melakukan episiotomi atau bila tidak ke dukun. Hal ini menyebabkan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan menjadi menurun. Masyarakat yang takut episiotomi akan memilih pertolongan persalinan ke dukun yang tidak pernah melakukan episiotomi dan menurut mereka peristiwa ruptura perinei merupakan hal yang wajar dalam persalinan.

Pengetahuan bidan desa mengenai episiotomi cukup baik. Data yang diperoleh dori responden bidan desa menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil (24,5%) ibu primipara yang dilakukan episiotomi. Kejadian ruptura perinei pada ibu yang tidak dilakukan episiotomi adalah 71%.

Di samping pengetahuan masyarakat yang masih kurang, sikap yang kurang menunjang, dari pihak responden bidan desa sendiri ternyata sebagian besar (70%) lebih suka tidak melakukan episiotomi dengan alasan agar masyarakat tidak takut meminta pertolongan persalinan ke bidan. Hal ini wajar karena bidan bertujuan agar masyarakat tidak lari ke dukun dalam meminta pertolongan persalinan dan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan meningkat.

Mengingat hal-hal tersebut di atas, perlu dilakukan upaya peningkatan pengetahuan dan pemberian pengertian kepada masyarakat mengenai episiotomi agar para bidan desa tidak ragu-ragu dalam melakukan episiotomi, khususnya pada kasus-kasus dimana harus dilakukan episiotomi. Juga perlu dilakukan pelatihan penyegaran untuk meningkatkan ketrampilan bidan desa dalam memberikan penyuluhan dan pertolongan persalinan.

(L.P. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga. No. Kontrak : 805/J03.2/ PG/1999,1 Oktober 1999)

Posisi Hubungan Seksual yang Terbaik

Seksualitas - Sesuai dengan dimensi prokreasi dan dimensi rekreasi seksualitas, maka hubungan seksual mempunyai tujuan menghasilkan keturunan dan mencapai kepuasan seksual.

Penelitian tentang perilaku seksual menunjukkan bahwa hubungan seksual yang benar dan berlangsung harmonis tidak dapat dicapai secara alamiah. Maka agar hubungan seksual yang benar berlangsung harmonis harus dipelajari dan dibina bersama bahkan fakta dasar tentang hubungan seksual pun harus dipelajari. Apalagi untuk mencapai hubungan seksual yang harmonis.

Salah satu faktor yang harus diperhatikan dalam melakukan hubungan seksual agar berlangsung harmonis ialah posisi. Banyak pasangan yang mengalami ketidakharmonisan hubungan seksual karena posisinya yang tidak efektif bagi salah satu pihak atau bahkan bagi kedua pihak. Banyak pula orang yang hanya terpaku pada satu posisi hubungan seksual karena mereka menganggap posisi itulah yang normal sedangkan posisi yang lain dianggap tidak normal. Akibatnya, kalau posisi yang dianggap normal itu ternyata tidak efektif bagi salah satu pihak, maka hubungan seksual selalu berlangsung tidak harmonis. Padahal sebenarnya tak ada posisi yang normal dan tidak normal dalam hubungan seksual.

Hubungan seksual harus dilakukan dalam posisi yang dapat memberikan rangsangan seksual yang efektif bagi kedua pihak. Karena itu hubungan seksual tidak harus dilakukan dalam satu posisi saja yang dianggap normal. Selain itu hubungan seksual yang dilakukan dalam posisi yang selalu sama dapat menimbulkan kebosanan. Maka diperlukan variasi posisi hubungan seksual di samping variasi dalam rangsangan seksual sehingga terasa lebih menyenangkan dan dapat melenyapkan kebosanan itu, Tetapi perlu diingat, posisi hubungan seksual yang lebih menyenangkan bagi seseorang, bisa jadi kurang menyenangkan bagi pasangannya.

Pada dasarnya ada tiga posisi hubungan seksual, yaitu

  1. posisi berbaring,
  2. posisi duduk,
  3. posisi berdiri.
Tetapi tiga posisi dasar itu dapat dilakukan dalam banyak variasi. Masing-masing posisi mempunyai keuntungan atau kelebihan, di samping kekurangannya.

Berikut diuraikan posisi hubungan seksual dengan beberapa variasinya:

  • Posisi pria di atas, wanita di bawah
Posisi ini yang paling umum dilakukan, sehingga inilah yang dianggap posisi normal. Posisi ini mempunyai variasi, antara lain: Wanita telentang dengan paha terbuka dan lutut ditekuk. Pria berada di atasnya dengan menahan pada siku dan lutut.
  • Pria menahan tubuhnya dengan lengan lurus, sedangken wanita berada dalam posisi telentang dengan paha terbuka.
  • Wanita meluruskan tungkainya dengan paha terbuka, sementara pria meletakkan tungkainya di atas tungkai wanita.
  • Di bawah bokong wanita diletakkan bantal lalu tungkai atas dan lutut ditekuk melingkari tubuh pria.
  • Wanita telentang di tepi tempat tidur. Pria berada di antara kedua pahanya, dengan sikap berlutut.
  • Kedua paha pria terletak di luar paha wanita dengan tungkai atas dan lutut ditekuk.

Keuntungan:
  1. Hubungan seksual dapat disertai ciuman sehingga terasa lebih intim dan mesra.
  2. Penis mudah masuk ke dalam vagina.
  3. Penis dapat tetap dipertahankan di dalam vagina ketika terjadi orgasme dan ejakulasi.
  4. Lebih mudah menghasilkan pembuahan untuk terjadinya kehamilan.

Kekurangan:
  1. Gerakan wanita kurang bebas sehingga partisipasi aktifnya kurang.
  2. Bagi wanita mungkin kurang terasa nyaman karena penis masuk terlalu dalam.
  3. Bagi pria sering terasa terlalu merangsang sehinga cepat mencapai orgasme, sementara pasangannya belum apa-apa.
  4. Tidak dianjurkan bagi wanita yang hamil besar.

B. Posisi wanita di atas, pria di bawah

Beberapa variasinya sebagai berikut:

  1. Pria telentang dengan lutut ditekuk. Wanita berada di atasnya dengan lutut ditekuk.
  2. Pria telentang dengan tungkai lurus. Wanita berada di atasnya dengan tungkai sedikit terbuka.
  3. Paha pria terbuka dengan lutut ditekuk. Paha wanita terletak di antara paha pria dengan lutut sebagai penahan.
  4. Kedua paha wanita berada di luar paha pria dengan lutut sebagai penahan.

Keuntungan:

  1. Wanita lebih bebas menggerakkan tubuhnya sehingga dapat menerima rangsangan yang efektif dari gesekan penis terhadap klitoris atau G spot. Di samping itu kedalaman penis dapat diatur.
  2. Pria dapat memperlambat terjadinya orgasme.
  3. Tangan pria bebas sehingga dapat memberikan rangsangan pada bagian tubuh wanita yang peka rangsangan seksual.
  4. Sangat baik bila pihak wanita jauh lebih kecil daripada pasangannya.

Kekurangan:
  1. Karena pria kurang dapat mengontrol gerakan, maka penis mudah tergelincir ke luar.
  2. Tidak baik untuk tujuan menghasilkan kehamilan.
  3. Juga tidak baik untuk wanita hamil.
  4. Gerakan pria yang terbatas mungkin dapat mengurangi gairah seksualnya.

C. Posisi samping

Posisi ini dilakukan dengan berbaring miring berhadap-hadapan. Beberapa variasinya adalah sebagai berikut:
  1. Wanita mengangkat 1 tungkai sehingga pahanya menyilang di atas paha pria, sementara tungkai yang lain lurus.
  2. Wanita merenggangkan kedua pahanya dan menyilang pada kedua paha pria. Wanita merenggangkan kedua pahanya, mengangkat dan menekuk lutut sehingga menyilang pada pinggang pria.
  3. Satu tungkai pria diletakkan di antara paha wanita dan tungkai yang lain diangkat miring menyilang di pinggang wanita.
Keuntungan:
  1. Hubungan seksual berlangsung lebih rileks. Keduanya dapat bergerak bebas dan mudah mengontrolnya.
  2. Dapat digunakan dalam keadaan payah, kegemukan, kesehatan terganggu dan perbedaan tinggi yang mencolok.
  3. Cukup memuaskan untuk hubungan seksual pada bulan-bulan terakhir kehamilan.

Kekurangan:

1. Bagi beberapa orang tidak mudah untuk mempertahankan tekanan pada daerah vulva.


D. Posisi belakang


Dalam posisi ini hubungan seksual berlangsung dengan memasukkan penis dari arah belakang wanita. Variasinya sebagai berikut:

  1. Wanita berbaring miring sambil menaikkan dan menekuk lututnya, pria menekan dari arah belakang.
  2. Pria mengangkat tungkai sehingga pahanya berada di atas paha wanita dari arah belakang.
  3. Wanita berada dalam posisi berlutut, lalu badan dibungkukkan dan bengan berfungsi sebagai penahan. Pria menekan dari arah belakang.
  4. Wanita berbaring tertelungkup, pria berbaring tertelungkup pada punggungnya, dan menekan dari belakang.

Keuntungan:

  1. Berbaring miring: wanita kurang banyak bergerak sehingga dapat digunakan pada kehamilan tua atau bila keduanya payah, usia tua, dan pada masa penyembuhan penyakit.
  2. Tekanan bokong wanita terhadap tubuh sering kali menambah rangsangan seksual pria.
  3. Tangan pria bebas memberikan rangsangan pada bagian tubuh wanita yang peka rangsangan seksual
  4. Posisi wanita berlutut, baik untuk menghasilkan pembuahan pada keadaan posisi rahim yang terbalik.

Kekurangan:
  1. Keintiman dan kemesraan kurang.
  2. Klitoris tidak mengalami gesekan penis, sehingga bagi sebagian wanita kurang memberikan rangsangan seksual.

E. Posisi duduk

Dalam posisi ini, pria duduk di kursi, di tepi atau di atas tempat tidur. Wanita duduk di atasnya dengan paha menyilang pada paha pria. Keduanya dapat berhadapan atau menghadap ke satu arah.

Beberapa variasinya sebagai berikut:

  1. Pria duduk di atas tempat tidur dengan tungkai lurus, berhadapan dengan wanita yang duduk di atas pahanya dengan lutut ditekuk.
  2. Pria dan wanita berhadapan sama-sama dalam posisi berlutut di atas tempat tidur.
  3. Pria duduk di atas tempat tidur dengan tungkai lurus, berhadapan dengan wanita yang duduk di atas pahanya dengan kedua paha terbuka di antara dada pria.
  4. Pria duduk di pinggir kursi, berhadapan dengan wanita yang duduk di atas pahanya.
Keuntungan:

  1. Wanita bebas menggerakkan tubuhnya sehingga dapat menerima rangsangan yang efektif dan gesekan penis terhadap klitoris atau G spot.
  2. Rangsangan pada bagian tubuh wanita yang peka rangsangan seksual dapat dilakukan oleh pria.

Kekurangan:

1. Penis dapat masuk terlalu dalam sehingga dapat mengganggu wanita.


F. Posisi berdiri

Posisi ini agak sukar dilakukan, lebih-lebih bila terdapat perbedaan tinggi yang mencolok antara pria dan wanita. Tetapi bagi sebagian pasangan posisi ini justru memberikan rangsangan yang cukup efektif. Hanya posisi ini memerlukan kondisi fisik yang lebih kuat karena bertumpu pada kedua kaki.

Beberapa variasinya sebagai berikut:

1. Sama-sama berdiri pada kedua kaki, wanita membuka pahanya. Pria berdiri pada kedua kaki, wanita berada dalam posisi digendong dengan mengangkat kedua kaki.

Selain variasi posisi di atas, setiap pasangan sebenarnya dapat melakukan variasi posisi hubungan seksual yang dikehendaki bersama. Satu hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihani variasi posisi hubungan seksual ialah harus disepakati bersama untuk membina kehidupan seksual yang harmonis.

Berarti kalau salah satu pihak tidak menghendaki suatu variasi karena tidak menyenangkan, seyogianya pasangannya dapat memahami dan tidak memaksakan kehendaknya.

Pemilihan posisi hubungan seksual dengan variasinya dapat dilakukan bila telah terjadi komunikasi yang baik antara kedua pihak pada pasangan itu. Sebaliknya, kalau tidak ada komunikasi yang baik maka sulit bagi pasangan itu untuk melakukan variasi posisi dalam hubungan seksual.

Posisi Bercinta = Karakter Pasangan

Tidak peduli Anda masih pengantin baru atau sudah menikah beberapa tahun lamanya, Anda pasti masih saja terkejut ketika menemukan 'kebiasaannya' yang belum Anda ketahui sebelumnya. Padahal hal itu bisa diatasi dengan memperhatikan posisi favorit suami dalam bercinta.

Dalam buku Secrets About Men Every Woman Should Know, Catherine de Angelis yang juga psikolog khusus pasangan mengatakan, “Posisi yang diminati pasangan adalah petunjuk bagi motivasinya, karakternya bahkan kata hatinya tentang hubungan Anda berdua.” Jadi bila nanti malam Anda akan berhubungan intim dengan pasangan, mulailah mencermati posisi pilihannya.

Posisi Favorit : Duduk berhadapan
Di posisi ini dia bisa berlama-lama menatap mata Anda dan menikmati desahan napas Anda. Romantis! Ini artinya suami Anda selalu ingin berbagi rasa dengan Anda. Ia juga kreatif dan antusias dalam menjalani hidup dengan Anda.

Posisi Favorit : Berdiri
Ia memilih posisi ini karena kegemarannya bercinta secara spontan. Posisi ini bisa dilakukan dimana saja. Dari kamar kecil, lift kantor atau di dapur! Suami Anda termasuk pria pemberani dan penuh rasa ingin tahu terutama dalam urusan bercinta. Bisa dipastikan kehidupan bercinta Anda akan penuh kejutan. Tapi hati-hati, kebiasaannya yang super kilat dan menyerempet bahaya itu juga menggambarkan kepribadiannya yang ingin serba cepat. Anda harus memaklumi bahwa sikapnya itu suatu hari nanti bisa menyulitkan Anda.

Posisi Favorit : Klasik
Bagi pria posisi ini sebenarnya dianggap kurang menantang namun sangat hebat. Suami suka posisi ini karena bisa mendekatnya dirinya dengan Anda dari sisi emosi maupun intimasi. Mengapa? Karena lewat posisi ini, Anda berdua bergerak seirama sementara tubuh saling bersentuhan dalam kehangatan. Maknanya adalah, pria ini cenderung seorang yang berpandangan tradisional. Ia percaya bahwa pria memang harus aggresif dalam memulai permainan dan dalam keseharian ia akan siap melindungi Anda.

Posisi Favorit : You’re on top
Pria yang menyukai posisi ini adalah pria yang sangat percaya diri dan tidak merasa terganggu oleh sepak terjang Anda termasuk dalam karir. Baginya Anda adalah partner sejati yang siap maju bersama. Dari sisi erotisnya, posisi ini akan membuatnya lebih nyaman dan menikmati pemandangan indah di depan matanya : tubuh Anda.

Atasi Impoten

Tak seorang pun lelaki yang menginginkan dirinya mengidap impotensi. Namun, impoten ini ternyata juga bisa dicegah dengan cara latihan. Salah satu latihan yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kondisi impotensi yang dialami adalah; Latihan otot panggul bawah atau pelvis.

Latihan ini bermanfaat mengatasi kesulitan ereksi. Ini adalah hasil penelitian yang dilakukan di Inggris beberapa waktu lalu. Menurut dr Grace Dorey dari RS Somerset Nuffield di Taunton, UK. mengatakan bahwa hasil penelitian ini menunjukkan adanya kemungkinan latihan otot-otot panggul bawah bisa digunakan sebagai salah satu pendekatan untuk mengatasi disfungsi ereksi.

Adapun bentuk latihannya, dititikberatkan pada peregangan otot-otot yang ada di daerah tersebut. Penelitian ini dilakukan pada 55 orang laki-laki dengan gangguan ereksi yang dipilih secara random. 55 orang laki-laki itu diminta berhenti merokok, dengan melakukan latihan otot panggul bawah dan yang tidak melakukan pendekatan apapun.

Latihan tersebut, ditujukan meningkatkan kemampuan penis untuk berkontraksi dan mengangkat skrotum (kantung zakar) menggunakan otot dasar panggul. Tidak sembarangan, saat melakukan latihan ini, mereka dipandu seorang fisioterapis.

Caranya, dengan melatih otot dasar panggul, dengan gerakan seperti menahan buang air besar. Setelah tiga bulan dilatih, para lelaki ini disarankan melanjutkan latihan di rumah, setidaknya selama tiga bulan berikutnya.



Hasilnya, kelompok yang tidak melakukan latihan otot panggul, tidak menunjukkan adanya respon terhadap intervensi. Sedangkan kelompok lelaki yang melakukan latihan, menunjukkan peningkatan fungsi ereksi dalam tiga bulan berikutnya.

Enam bulan kemudian, hasil evaluasi menunjukkan, 40 persen laki-laki tersebut mengalami fungsi ereksi yang normal. 35,5 persen lainnya mengalami perbaikan fungsi dan 24,5 persennya tak menunjukkan adanya kemajuan